Tritunggal
Tritunggal atau Trinitas adalah doktrin Iman Kristen yang mengakui Satu Allah Yang Esa, namun hadir dalam Tiga Pribadi: Allah Bapa dan Putra dan Roh Kudus, di mana ketiganya adalah sama
esensinya, sama kedudukannnya, sama kuasanya, dan sama kemuliaannya. Istilah Tritunggal
(Inggris: trinity, Latin: trinitas) mengandung arti tiga Pribadi dalam
satu kesatuan esensi Allah. Istilah "pribadi" dalam bahasa Yunani
adalah hupostasis, diterjemahkan ke Latin sebagai persona
(Inggris: Person).
Sejak awal abad ketiga[1] doktrin Tritunggal telah dinyatakan
sebagai "Satu keberadaan (Yunani: ousia, Inggris: beeing)
Allah di dalam tiga Pribadi dan satu substansi (natur), Bapa, Anak, dan Roh
Kudus "
Kamus Oxford Gereja Kristen (The Oxford Dictionary
of the Christian Church) menjelaskan Trinitas sebagai "dogma sentral
dari teologi
Kristen".[2] Doktrin ini diterima oleh mayoritas
aliran-aliran Kristen, seperti: Katolik,Protestan, dan Orthodoks.
Kitab Perjanjian Baru tidak secara eksplisit menuliskan
istilah "Allah Tritunggal", tetapi keberadaan Bapa, Putra dan Roh
Kudus tersurat dalam banyak ayat, baik secara terpisah maupun bersama-sama.
Berdasarkan rumusan dalam perintah tentang pembaptisan di Matius 28:19
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah
mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (TB-LAI). Doktrin
Tritunggal mendapatkan bentuknya seperti sekarang, adalah berdasarkan Firman
Tuhan dalam Injil. Ucapan Yesus: Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku, dapat
digunakan untuk menjelaskan istilah "pribadi", "sifat",
"esensi", "subtansi", istilah-istilah yang belum pernah
digunakan oleh para Rasul.
Karena kekurang pahaman dalam membaca Injil, beberapa orang
atau kelompok menyangkal bahwa doktrin yang dinyatakan pada abad keempat
tersebut didasarkan pada gagasan Kristen, dan bahwa doktrin itu merupakan sebuah penyimpangan dari ajaran Kristen mula-mula tentang
Allah. Bahkan ada yang menyatakan bahwa doktrin tersebut meminjam konsep
pra-Kristen tentang trinitas ilahi yang dipahami oleh Plato.
Etimologi
Kata Trinitas berasal dari bahasa Latin yang berarti "nomor tiga, tiga
serangkai atau tritunggal".[3] Kata benda abstrak ini terbentuk
dari kata sifat trinus (tiga masing-masing, tiga kali lipat),[4] sebagai kata unitas yang
merupakan kata benda abstrak yang dibentuk dari unus (satu).
Kata yang sesuai dalam bahasa Yunani adalah Τριάς, yang
berarti "satu set dari tiga" atau "nomor tiga".[5]
Penggunaan tercatat pertama dari kata Yunani ini dalam
teologi Kristen (meskipun bukan tentang Trinitas Ilahi) adalah oleh Teofilus dari Antiokhia pada sekitar 170.[6][7][8]
Tertulianus, seorang teolog Latin yang menulis
pada awal abad ketiga, yang dianggap menggunakan kata-kata
"Trinitas",[9] "persona" dan
"substansi"[10] menjelaskan bahwa Bapa, Anak dan Roh
Kudus adalah "satu dalam esensi - bukan satu dalam Persona"[11]
Sekitar satu abad kemudian, pada tahun 325, Konsili Nicea menetapkan doktrin Trinitas sebagai ortodoksi dan mengadopsi Pengakuan
Iman Nicea, yang
menggambarkan Kristus sebagai "Allah dari allah, Terang dari terang, maha
Allah dari maha Allah, diperanakkan, bukan dibuat, satu substansi (homoousios)
dengan Bapa".
Sejarah
Pertemuan Nicea adalah pertemuan yang sangat diragukan karena
ketidak konsistenan data. Penguasa Roma Konstantin memanggil semua uskup ke Nicea,
jumlahnya sekitar 1800 uskup. Dari jumlah ini sekitar 1000 orang dari timur dan
800 orang dari barat. Namun, jumlah yang hadir lebih sedikit dan tidak
diketahui pasti berapa. Eusebius
dari Kaisaria
menghitung 250, Athanasius dari Alexandria menghitung 318, dan Eustatius dari Antiokia mencatat 270 orang. Mereka bertiga
hadir pada konsili ini. Belakangan Socrates Scholasticus mencatat lebih dari 300 orang dan Evagrius, Hilarius, Hieronimus dan Rufinus mencatat 318 orang.
Konstantin bukan seorang Kristen. Menurut dugaan, ia
belakangan ditobatkan, tetapi baru dibaptis pada waktu sedang terbaring
sekarat.
Mengenai dirinya, Henry Chadwick mengatakan dalam The Early Church: “Konstantin, seperti bapanya, menyembah Matahari Yang Tidak
Tertaklukkan;... pertobatannya hendaknya tidak ditafsirkan sebagai pengalaman
kerelaan yang datang dari batin... Ini adalah masalah militer. Pengertiannya
mengenai doktrin Kristen tidak pernah jelas sekali, tetapi ia yakin bahwa
kemenangan dalam pertempuran bergantung pada karunia dari Allah orang-orang
Kristen.”
Peranan apa yang dimainkan oleh kaisar yang tidak dibaptis
ini di Konsili
Nicea? Encyclopaedia
Britannica
menceritakan:
“Konstantin
sendiri menjadi ketua, dengan aktif memimpin pertemuan dan secara pribadi
mengusulkan... rumusan penting yang menyatakan hubungan Kristus dengan Allah
dalam kredo yang dikeluarkan oleh konsili tersebut, ‘dari satu zat dengan
Bapa’... Karena sangat segan terhadap kaisar, para uskup, kecuali dua orang
saja, menandatangani kredo itu, kebanyakan dari mereka dengan sangat berat
hati.”
Karena itu, peran Konstantin penting sekali. Setelah dua
bulan debat agama yang sengit, politikus kafir ini campur tangan dan mengambil
keputusan demi keuntungan mereka yang mengatakan bahwa Yesus adalah Allah.
Tetapi mengapa? Pasti bukan karena keyakinan apapun dari Alkitab. “Konstantin
pada dasarnya tidak mengerti apa-apa tentang pertanyaan pertanyaan yang
diajukan dalam teologi Yunani,” kata A Short History of Christian Doctrine. Yang ia tahu adalah bahwa
perpecahan agama merupakan ancaman bagi kekaisarannya, dan ia ingin memperkuat
wilayah kekuasaannya.
Perkembangan selanjutnya
Setelah Konsili Nicea, perdebatan mengenai pokok ini terus
berlangsung selama puluhan tahun. Mereka yang percaya bahwa Yesus tidak setara
dengan Allah bahkan mendapat angin lagi untuk beberapa waktu. Namun belakangan,
Kaisar Theodosius mengambil keputusan menentang mereka. Ia meneguhkan kredo
dari Konsili Nicea sebagai standar untuk daerahnya dan mengadakan Konsili
Konstantinopel pada
tahun 381 M. untuk menjelaskan rumus tersebut.
Konsili tersebut menyetujui untuk menaruh roh kudus pada
tingkat yang sama dengan Allah dan Kristus. Untuk pertama kali, Tritunggal
Susunan Kristen mulai terbentuk dengan jelas.
Tetapi, bahkan setelah Konsili Konstantinopel, Tritunggal
tidak menjadi kredo yang diterima secara luas. Banyak orang menentangnya dan
karena itu mengalami penindasan yang kejam.
Baru pada abad-abad belakangan Tritunggal dirumuskan dalam
kredo-kredo yang tetap. The Encyclopedia Americana mengatakan : “Perkembangan
penuh dari ajaran Tritunggal terjadi di Barat, pada pengajaran dari Abad
Pertengahan, ketika suatu penjelasan dari segi filsafat dan psikologi
disetujui.”
Kredo Athanasia
Tritunggal didefinisikan lebih lengkap dalam Kredo Athanasia.
Athanasius adalah seorang pendeta yang
mendukung Konstantin di Nicea. Kredo yang memakai namanya berbunyi: “Kami
menyembah satu Allah dalam Tritunggal... sang Bapa adalah Allah, sang Anak
adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah; namun mereka bukan tiga allah, tetapi
satu Allah.”
Tetapi, para sarjana yang mengetahui benar masalahnya setuju
bahwa Athanasius tidak menyusun kredo ini. The New Encyclopedia Britannica
mengomentari: “Kredo itu baru dikenal oleh Gereja Timur pada abad ke-12. Sejak
abad ke-17, para sarjana pada umumnya setuju bahwa Kredo Athanasia tidak
ditulis oleh Athanasius (meninggal tahun 373) tetapi mungkin disusun di
Perancis Selatan pada abad ke-5... Pengaruh kredo itu tampaknya terutama ada di
Perancis Selatan dan Spanyol pada abad ke-6 dan ke-7. Ini digunakan dalam
liturgi gereja di Jerman pada abad ke-9 dan kira-kira tidak lama setelah itu di
Roma.”
Pengertian Pribadi dalam Tritunggal
Allah di dalam Alkitab menyatakan Diri kepada manusia yang
diciptakanNya sebagai Bapa, Firman (Anak), dan Roh Kodus. Umat Krisitiani
mengenal Allah sedemikian rupa dan membentuk istilah Allah Tritunggal: Allah
(Bapa), Allah (Anak), dan Allah (Roh Kudus) merupakan inti ajaran Kristen. Ketiga Pribadi adalah sama, sama kuasanya, dan sama
kemuliaannya. Ketiganya satu dalam esensi dan memiliki sifat (Ing:attribute) yang
sama. Ke-mahakuasa-an,ke-tidak-berubah-an, ke-mahasuci-an,
ke-tidak-tergantung-an, dimiliki oleh masing-masing Pribadi Allah.
Masing-masing Pribadi adalah Allah, namun ketiga Pribadi
tidak identik ketika kita memanggilNya di dalam doa atau ketika Allah mewujudkan
karyaNya bagi penciptaan dan pemeliharaan manusia dan alam semesta, maka Allah
Bapa bukan Allah Anak; Allah Anak bukan Allah Roh Kudus; dan Allah Roh Kudus
bukan Allah Bapa. Ketiganya dapat dibedakan, tetapi di dalam esensi tidak
terpisahkan.
Yohanes Calvin menjelaskan bahwa ketiga Pribadi
tersebut tidak dapat dipisahkan menjadi tiga sosok yang terpisah.[12] Ketiga gelar tersebut digunakan
untuk menunjukkan bahwa ada kekhasan dalam cara Allah
turun ke dunia ini.[12] Allah yang turun ke dunia, mati dan
menderita bukanlah Allah Bapa, melainkan Allah Anak.[12]
Allah Bapa
Allah sebagai Bapa yang memelihara, yang memberikan kasih
seorang Bapa Sejati yang sangat mesra, begitu penyayang dan begitu tertib penuh
ketegasan (disiplin). Bapa Sorgawi tidak pernah sama dengan para bapa
(bapak-bapak atau para ayah) dunia ini dalam hal kasih dan karakter yang tidak
dapat terbandingi dengan kasih dan karakter Bapa Sorgawi. Allah sebagai Bapa
Sorgawi merupakan Bapa yang sempurna dari segala bapa (bapak-bapak atau para
ayah) dunia ini yang adalah gambaran dan rupa (duplikat dan bayangan) dari Sang
Bapa Sorgawi yang murni.
Bapa (Kepribadian Bapa) tidaklah lebih tinggi daripada Anak
ataupun juga dengan Roh Kudus.
Allah Anak
Allah sebagai teladan dengan Ia merendahkan diri-Nya dalam
rupa manusia dan mengenakan nama Yesus
yang adalah Kristus (Allah yang datang sebagai manusia), taat pada semua hukum yang telah Ia tetapkan, mati
di kayu salib, dikuburkan, lalu bangkit pada hari yang ketiga, dan
naik ke surga dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang
yang hidup dan mati. Ia adalah teladan iman sejati dan sumber kehidupan bagi
orang Kristen. Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang terbesar
dengan menjadi Anak yang mati di kayu salib.
Ini adalah berita Injil yang adalah kekuatan Allah. Alkitab menyatakan bahwa Anak merupakan yang Anak sulung
Allah dari semua anak-anak Allah dimaksudkan bahwa Anak pun merupakan
"Sahabat Sejati" yang rela mengorbankan Nyawa-Nya dan tidak
menyayangkannya sama sekali untuk manusia dapat diterima sebagai anak-anak
Allah.
Anak (Kepribadian Anak) tidak pernah lebih rendah daripada
Bapa.
Allah Roh Kudus
Allah sebagai Pembimbing, Pendamping, Penolong, Penyerta, dan
Penghibur yang tidak terlihat, namun berada dalam hati setiap manusia yang mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan
dan hidup di dalam-Nya.
Roh Kudus bukanlah tenaga aktif. Roh Kudus bukanlah
kebijaksanaan (pikiran) tertinggi dari seluruh alam jagad kosmik. Roh Kudus
bukanlah manusia tokoh pendiri suatu agama
baru. Roh Kudus tidak pernah berbau hal yang mistik. Memang benar bahwa Allah
itu maha kuasa, tetapi Roh Kudus itu bukan sekedar kuasa atau kekuatan, tetapi
Roh Kudus adalah Allah, sebab Allah itu Roh. Dengan demikian Roh Kudus adalah
Pribadi Allah itu sendiri dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Allah. Kepribadian Roh Kudus tidak pernah lebih rendah daripada Bapa maupun
Anak.
Dasar-dasar Alkitabiah Tritunggal
- Pada
saat penciptaan dalam Kitab
Kejadian Allah berkata: "Marilah Kita
...", kata Kita merupakan subjek jamak.
- Saat
Yesus dibaptis di sungai Yordan, Ia menunjukkan kepribadian-Nya pada saat
yang sama dan bermunculan bersama-sama dengan Roh Kudus (dalam manifestasi
burung merpati) turun ke atas Anak, dan Bapa berfirman dengan lantang
penuh kasih.
- Saat
penciptaan, dimana Bapa mencipta, Anak berfirman, dan Roh Kudus yang
memulihkan (melayang-layang) sempurna.
- Saat
Pencurahan Pentakosta, dimana Bapa mengutus, Anak yang memberikan Roh
Kudus, dan Roh Kudus tercurah pada murid-murid Yesus yang ada di atas
loteng.
- Saat
Yesus berada di atas gunung, setelah Ia meneladani manusia dengan berdoa,
Ia menunjukkan kemuliaan-Nya dan menampakkan kepribadian-Nya dengan
wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih
bersinar seperti terang, kemudian Roh Kudus turun, dan awan yang terang
menaungi 3 orang murid Yesus. Bapa dari dalam awan itu memperdengarkan
suara-Nya dan berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi,
kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."
Antitritunggal
Tidak ada pemeluk Kristen yang menolak doktrin Tritunggal,
tetapi sebagian menganggap suatu hal yang tidak begitu penting untuk
mendiskusikannya. Seseorang atau satu komunitas yang berasal dari agama lain
berada pada posisi menyebut diri mereka sebagai "Antitritunggal",
namun bervariasi sesual alasan mereka menolak Tritunggal dan sesuai bagaimana
mereka mendeskripsikan Tuhan.
Keselamatan (Kristen)
Di dalam kekristenan, konsep keselamatan merupakan
salah satu isu utama dan menempati kedudukan yang sentral dalam teologi Kristen. Studi teologi untuk hal keselamatan
disebut soteriologi - yaitu tentang bagaimana
keselamatan dapat dicapai dan apa saja yang memengaruhi keselamatan, dan
hasilnya. Keselamatan juga disebut sebagai "pelepasan" atau
"penebusan" dari dosa dan pengaruh dosa.
Menurut kepercayaan Kristen tidak ada orang yang dapat
memperoleh keselamatan melalui usaha mereka sendiri, baik itu dengan
ritus-ritus, perbuatan baik, persembahan, meditasi atau cara-cara lainnya.
Keselamatan hanya bisa diterima karena telah diberikan secara cuma-cuma oleh kematian Yesus
di kayu salib. Untuk menerima keselamatan pertama-tama seseorang harus mengakui
keberadaannya yang berdosa terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan penerimaan
karya penebusan Kristus, yang disebut sebagai "pertobatan". Istilah "pertobatan" memiliki makna lebih dari sekedar menyesali perbuatannya yang salah. Pertobatan harus disertai dengan perubahan
mentalitas.
Keselamatan berasal dari anugerah Allah. Perjanjian Lama menunjukkan bahwa manusia pada
dasarnya adalah berdosa, dan menceritakan tentang perjanjian yang diberikan
Tuhan kepada umat pilihan. Perjanjiannya termasuk Perjanjian kepada Abraham, yaitu bahwa melalui Abraham semua bangsa di bumi
akan diberkati. Tuhan menunjukkan karya penyelamatannya di sepanjang sejarah Israel
dan juga menjanjikan Mesias yang akan menyelamatkan manusia dari
kuasa dan hukuman dosa. Sosok Mesias tersebut dipenuhi oleh Yesus yang akhirnya
mengalahkan seluruh karya Iblis, termasuk penderitaan, penyakit, dan kematian.[1]
Di dalam Perjanjian Baru dijelaskan bahwa "karena kasih
karunia [kita] diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan
diri." Efesus 2:8-9
Orang yang diselamatkan diampuni dosanya dan akan menerima
hidup yang kekal. Mereka disebut sebagai anak-anak Allah dan menerima Roh Kudus yang memampukan mereka untuk lahir baru.
[sunting] Perbandingan dalam Protestan
Teologi keselamatan dalam Arminianisme (dari Jacobus Arminius, penentang Calvin) yang terkenal
dengan nama doktrin Arminian. Kelima pokok ajaran Calvinisme yang
terkenal dengan singkatannya dalam bahasa Inggris "T U L I P"
merupakan tanggapan terhadap doktrin Arminian yang tidak sesuai dengan Alkitab.
Topik
|
|||
Kerusakan total tanpa
memiliki kehendak bebas
|
Kerusakan
total tanpa memiliki kehendak bebas
|
Manusia memiliki
kehendak bebas untuk memilih yang baik dan yang jahat
|
|
Pemilihan tanpa syarat
hanya untuk keselamatan
|
Pemilihan
tanpa syarat baik untuk keselamatan maupun untuk
penghukuman
|
Pemilihan
dengan syarat didasarkan pada iman dan perbuatan
baik manusia yang sudah diketahui Allah sebelumnya.
|
|
Pembenaran/Penebusan
|
Penebusan
untuk semua orang telah selesai ketika Kristus mati.
|
Penebusan
terbatas hanya pada umat pilihan Allah, telah selesai
ketika Kristus mati.
|
Pembenaran
dimungkinkan untuk semua orang (penebusan universal), namun hanya terjadi
ketika seseorang memanfaatkannya/menentukan pilihan yang didasarkan oleh
imannya. Semua umat manusia mempunyai kemungkinan untuk dapat ditebus sebagai
akibat dari pekerjaan Kristus di kayu salib.
|
Pekerjaan Roh Kudus/
Anugerah keselamatan |
Menyangkut anugerah
kehendak bebas dan oleh karena itu dapat ditolak; pekerjaan Roh Kudus
terbatas, sebab Ia memanggil manusia untuk bebas memilih bertobat dan manusia
dapat menolaknya.
|
||
Perlindungan
|
Orang percaya dapat
jatuh, namun Allah memberi jaminan preservasi
|
Ketekunan
orang-orang kudus, sekali diselamatkan, akan tetap
selamat
|
Orang percaya
dilindungi imannya oleh Allah namun memiliki kemungkinan kehilangan anugerah
Allah tersebut.
|
Referensi dan pranala luar
1.
^
"Salvation." Macmillan Dictionary of the
Bible. London: Collins, 2002. Credo Reference. 19 July 2009. ISBN
0-333-64805-6
2.
^
Table drawn from, though not copied, from Lange,
Lyle W. God So Loved the Word: A Study of Christian Doctrine. Milwaukee:
Northwestern Publishing House, 2006. p. 448.
Maria
Maria (Aram-Yahudi מרים Maryām
"pahit"; Bahasa
Yunani Septuaginta Μαριαμ, Mariam, Μαρια,
Maria; bahasa Arab: Maryam, مريم) adalah
ibu Yesus dan tunangan yang kemudian menjadi istri Yusuf[1] dalam Kekristenan dan Islam.
Menurut sumber-sumber non-kanonik, orangtuanya bernama Yoakhim dan Anna (Hana). Sebuah catatan dalam Talmud mengatakan bahwa nama ayahnya adalah Heli atau Eli,
yang disebutkan dalam silsilah menurut Lukas.[2] Maria, yang saat itu seorang perawan, mengetahui dari malaikat Gabriel, utusan Allah, bahwa ia akan
mengandung Yesus, anak dari Allah yang hidup, melalui mukjizat dari Roh Kudus.
Karena Lukas 1:48 ("mulai dari sekarang segala keturunan akan
menyebut aku berbahagia"), Maria banyak diagungkan di kalangan orang
Kristen, khususnya di lingkungan Gereja
Katolik Roma dan Gereja Ortodoks. Umat Muslim pun sangat
menghormatinya. Bidang teologi Kristen yang berhubungan dengannya disebut Mariologi. Pesta kelahiran Maria dirayakan di
kalangan Gereja Ortodoks, Katolik Roma, dan Anglikan pada 8 September. Gereja Ortodoks dan Katolik Roma
juga mempunyai banyak hari perayaan lainnya untuk menghormati Maria.
Gelar-gelar Maria
Gelar-gelar Maria yang paling lazim antara lain adalah Perawan Terberkati Maria atau Bunda kita (Notre
Dame, Nuestra Señora, Madonna).
Oleh Gereja Ortodoks dan tradisi-tradisi Timur dalam Gereja
Katolik, Maria kerap
disebut juga sebagai Theotokos. Gelar bagi Maria ini diakui dalam Konsili Ekumenis III di Efesus pada tahun 431. Theotokos
sering diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai "Bunda Allah,"
atau lebih harafiah lagi "Yang Melahirkan Allah." Makna Teologis yang
terkandung dalam gelar ini adalah bahwa putera Maria, Yesus, adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, dan bahwa
dua sifat Yesus (Illahi dan insani) dipersatukan dalam satu Pribadi tunggal.
Maria dalam Perjanjian Baru
Sedikit yang diketahui mengenai riwayat hidup Maria dari Perjanjian Baru. Dia adalah kerabat dari Elizabet, istri dari imam Zakaria anggota golongan imam Abia. Elizabet
sendiri seorang keturunan Harun[3].
Maria bertempat tinggal di Nazareth di Galilea, kemungkinan bersama dengan kedua
orang tuanya, dan sementara itu telah dipertunangkan dengan Yusuf dari Keluarga
Daud [4]. Para Apologis Kristen kadang-kadang
menduga bahwa Maria, sebagaimana Yusuf, juga adalah seorang keturunan Raja Daud. Selama masa pertunangan mereka – yakni tahap pertama dalam
pernikahan Yahudi; selama masa tersebut, pasangan yang dipertunangkan tidak
diperbolehkan sama sekali untuk berduaan saja di bawah satu atap, meskipun
sudah sah disebut suami isteri – Malaikat Gabriel mewartakan kepadanya bahwa dia akan
menjadi ibu dari Mesias yang dijanjikan itu dengan cara
mengandungnya melalui Roh Kudus [5]. Ketika Yusuf diberitahukan mengenai
kehamilan Maria dalam sebuah mimpi oleh "seorang malaikat Tuhan", dia
terkejut; namun malaikat itu berpesan agar Yusuf tidak gentar dan mengambil
Maria sebagai isterinya. Yusuf mematuhinya dengan secara resmi melengkapi ritus
pernikahan itu [6].
Karena malaikat telah memberitahukan Maria bahwa Elizabet,
yang sebelumnya mandul, kini secara ajaib telah mengandung, Maria lalu segera
mengunjungi kerabatnya itu, yang tinggal bersama suaminya Zakaria di sebuah
kota Yudea "di daerah perbukitan" (kemungkinan di Yuttah}[7], bersebelahan dengan Maon, sekitar
160 km dari Nazareth)[8]. Begitu Maria tiba dan menyalami
Elizabet, Elizabet dengan segera menyatakan Maria sebagai "ibu dari
Tuhannya", dan atas pernyataan itu Maria menyanyikan sebuah kidung
ungkapan syukur[9] yang umum dikenal sebagai Magnificat. Tiga bulan sesudahnya, tampaknya
segera setelah kelahiran Yohanes Pembaptis, Maria pulang ke rumahnya[10]. Ketika kehamilan Maria sendiri
makin membesar, tiba sebuah dekrit dari kaisar Romawi Augustus[11] yang menitahkan agar Yusuf dan sanak
keluarganya pergi ke Betlehem[12], sekitar 80 atau 90 mil (kurang
lebih 130 km) dari Nazareth, untuk mengikuti sensus. Ketika mereka berada di Betlehem, Maria melahirkan putera
sulungnya; namun karena tidak ada tempat bagi mereka di penginapan (tempat
bernaung yang disediakan bagi orang-orang asing[13], dia harus menggunakan sebuah palungan, atau tempat makan hewan, sebagai
buaian bayi.
Sesudah delapan hari, anak itu disunat dan dinamai Yesus, menurut instruksi yang diberikan oleh
"malaikat Tuhan" kepada Yusuf setelah Maria menerima anunsiasi,
karena nama ini menunjukkan bahwa "dia [akan] menyelamatkan umatnya dari
dosa-dosa mereka"[14].
Setelah bayi Yesus berusia 40 hari, maka upacara-upacara tradisional tersebut
dilanjutkan dengan penyerahan Yesus kepada Tuhan di Bait Allah di Yerusalem sesuai dengan aturan
hukum bagi anak-anak sulung.
Hal ini kemudian diikuti oleh kunjungan orang-orang majus dari Timur, pengungsian Yusuf beserta Maria dan Yesus ke Mesir, kembalinya mereka dari sana setelah mangkatnya Raja Herodes Agung sekitar tahun 2 atau 1 Sebelum
Masehi, dan menetap di Nazaret (Matius 2). Maria tampaknya menetap di Nazaret
selama kira-kira tiga puluh tahunan tanpa peristiwa-peristiwa istimewa. Dia
terlibat dalam satu-satunya peristiwa di awal kedewasaan Yesus yang tercatat
dalam Perjanjian Baru: pada usia dua belas tahun, Yesus terpisah dari orang
tuanya dalam perjalanan pulang mereka dari perayaan Paskah Yahudi di Yerusalem lalu ditemukan di tengah para guru
di Bait Allah[15]. Kemungkinan besar antara peristiwa
tersebut sampai dengan permulaan tampilnya Yesus ke depan umum, Maria menjadi
janda, karena Yusuf tidak disebut-sebut lagi.
Setelah Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis dan dicobai oleh iblis di padang
gurun, Maria hadir ketika Yesus mengerjakan mujizat pertamaNya di hadapan umum
pada pesta pernikahan di Kana dengan mengubah air menjadi anggur berkat perantaraan Maria[16]. Selanjutnya dalam beberapa
peristiwa Maria hadir bersama "saudara-saudara" (Yakobus, Yusuf,
Simon dan Yudas) serta "saudari-saudari" Yesus yang tidak disebutkan
nama-namanya[17]. Maria juga dilukiskan hadir pada
peristiwa penyaliban Yesus, berdiri di dekat "murid
yang dikasihi Yesus" bersama saudarinya Maria Klopas (kemungkinan besar
Maria Klopas adalah orang yang sama dengan Maria ibu Yakobus muda dan Yusuf
yang disebutkan dalam[18], serta Maria Magdalena[19]. Pada daftar itu Matius 27:55 menambahkan "ibu anak-anak Zebedeus", yang
diduga bernama Salome yang disebut-sebut dalam Markus 15:40, serta wanita-wanita lain yang telah mengikuti Yesus
dari Galilea dan melayaniNya (disebutkan dalam Injil Matius dan Markus). Maria,
menggendong jenazah puteranya, meskipun tidak tertulis dalam injil, merupakan
motif yang umum dalam seni, yang disebut "pietà" atau "kesalehan".
Menurut Kisah Para Rasul, sesudah kenaikan Yesus ke surga,
kurang-lebih 120 jiwa berkumpul di Kamar Atas pada peristiwa terpilihnya Matias untuk mengisi posisi Rasul yang
ditinggalkan Yudas Iskariot, di mana Maria adalah satu-satunya
orang yang disebutkan namanya selain ke-12 rasul serta para kandidat[20]. Sejak peristiwa ini, namanya
menghilang dari Alkitab, meskipun beberapa golongan Kristiani yang meyakini
bahwa Maria sekali lagi digambarkan sebagai Wanita surgawi dalam Wahyu[21].
Kematiannya tidak tercatat dalam Alkitab.
[sunting] Tulisan-tulisan dan tradisi-tradisi umat Kristen selanjutnya
Menurut Injil Yakobus, yang, meskipun bukanlah bagian dari Kitab Perjanjian Baru, berisi materi biografis mengenai
Maria yang dianggap "dapat dipercaya" oleh beberapa kalangan
Kristiani Ortodoks dan Katolik, Maria adalah puteri dari Yoakim dan Ana.
Sebelum mengandung janin Maria, Ana mandul, dan kedua orang tua Maria sudah
berusia lanjut ketika dia dikandung. Mereka membawa Maria untuk tinggal di Bait Allah di Yerusalem ketika umurnya baru tiga tahun,
sangat mirip dengan peristiwa Hana membawa Samuel untuk tinggal di Tabernakel, sebagaimana yang tercatat dalam
Kitab Perjanjian
Lama (Tanakh,
Alkitab Ibrani).
Menurut tradisi Katolik Romawi dan Ortodoks Timur, antara
tiga sampai lima belas tahun sesudah kenaikan Kristus, di Yerusalem atau Efesus,
Maria meninggal dunia; disaksikan para rasul Kristus. Selanjutnya, ketika para
rasul membuka makamnya, ternyata kosong, sehingga mereka menyimpulkan bahwa dia
telah diangkat secara badaniah ke Surga. ("Makam Maria" - sebuah makam di Yerusalem diyakini sebagai makam
Maria, namun makam itu baru dikenal pada abad ke-6.)
Maria dalam agama-agama non-Abrahamik
Beberapa penganut agama-agama non-Abrahamik (non-Samawi),
khususnya para penganut agama Wicca, menghubung-hubungkan Maria dengan Ibu Pertiwi dalam pelbagai tradisi Neo-pagan. Beberapa umat Buddha bahkan pernah menghubung-hubungkan
Maria dengan Kwan-Yin, Bodhisattva Welas-Asih yang dihormati oleh
berbagai sekte Buddha di Tiongkok. Para penganut agama Santeria menganggap Maria (sebagai Bunda Maria dari Regla) adalah Dewi Yemaja, dan Maria (sebagai "Virgen de la Caridad del Cobre") adalah
Dewi Oshun.
Dalam hal ini, perbedaan dengan sudut pandang agama Kristiani
adalah Maria sungguh adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat mulia, terpuji di
antara wanita, memiliki posisi yang istimewa di mata Tuhan, namun tetaplah
bukan seorang dewi atau pun makhluk setengah Tuhan. Ia tetap manusia biasa yang
berkenan di mata Tuhan.
Maria dan Shakespeare
Pada abad ke-16 di Inggris, penghormatan terhadap Maria
menjadi sebuah isu sentral dalam kontroversi umum menyangkut makna ayat-ayat
Kitab Suci, citra-citra religius, dan praktik-praktik religius dalam kehidupan
Kristiani. Beberapa tokoh terkemuka di Inggris pada abad ke-16 menganggap
ziarah ke tempat-tempat ziarah yang didirikan untuk menghormati Maria serta
berdoa rosario itu tidak-Alkitabiah,
"takhyul", dan/atau pemberhalaan. Sejak tahun 1535 sampai 1538, di
bawah perintah Raja
Henry VIII, seluruh
tempat-tempat ziarah Kristiani di Inggris dihancurkan karena para reformer
Protestan percaya bahwa tempat-tempat itu berpengaruh buruk terhadap kerohanian
masyarakat. Banyak dari tempat-tempat ziarah yang dihancurkan tersebut adalah
tempat-tempat ziarah yang didirikan untuk menghormati Maria, di antaranya
adalah tempat ziarah Our Lady of Walsingham yang sangat populer, serta berbagai pusat ziarah
lainnya di Ipswich, Worcester, Doncaster, dan Penrise. Tempat ziarah Our
Lady of Walsingham telah diziarahi oleh dua dari kelima isteri Henry, yakni
Catherine Aragon dan Anne Boleyn. Kedua wanita itu juga wafat sekitar waktu penghancuran
tempat ziarah tersebut pada tahun 1538.
Pada saat yang sama, "Maria" atau "Mary"
dalam Bahasa Inggris secara dramatis kian populer sebagai nama yang diberikan
untuk bayi-bayi perempuan di Inggris pada abad ke-16. Sekitar tahun 1500, di
Warwick County, Inggris, mungkin hanya ada 1% bayi perempuan yang diberi nama
Mary. Sekitar tahun 1600, jumlah bayi perempuan yang diberi nama Mary meningkat
hingga sekitar 10%. Perubahan ini terasa luar biasa, mengingat adanya upaya
ekstensif dari pemerintah pada masa itu untuk menghilangkan sama sekali
penghormatan terhadap citra-citra Maria, dan untuk mengarahkan peribadatan
Kristiani kepada kata-kata yang tertulis.
William Shakespeare memiliki apresiasi yang kuat
terhadap kontroversi menyangkut "Maria" dalam kehidupan Kristiani.
Kesadaran akan kaitan antara kata-kata serta citra-citra, dan para pemeran,
bayang-bayang, serta tokoh-tokoh yang sesungguhnya, senantiasa muncul dalam
karya Shakespeare. Drama Romeo and Juliet, Bagian ke-1, Babak ke-5,
berisi sebuah dialog, disusun secara formal dalam bentuk sebuah soneta, yang
menggunakan peziarahan ke tempat ziarah Maria untuk mengungkapkan usaha Romeo
untuk merayu Juliet. Babak terakhir dari The Winter's Tale berisi
instruksi-instruksi dari Paulina, yang menempatkan Perdita dalam posisi untuk
meminta pada patung Hermione agar mendoakannya, mirip dengan peziarah di
tempat-tempat ziarah Maria yang berdoa di depan sebuah citra Maria. Menurut
beberapa kritikus, huru-hara menyangkut Maria dalam sejarah Inggris pada abad
ke-16 sangat erat kaitannya dengan perkembangan teater Shakespeare.
Penggambaran
Maria telah digambarkan dalam beberapa film:
- Linda
Darnell, The
Song of Bernadette, 1943
- Angela
Clarke, The
Miracle of Our Lady of Fatima, 1951
- Siobhán
McKenna, King
of Kings, 1961
- Olivia
Hussey, Jesus of
Nazareth, 1977
- Verna Bloom,
The
Last Temptation of Christ, 1988
- Maia
Morgenstern, The Passion of the
Christ, 2004
- Keisha
Castle-Hughes, The
Nativity Story, 2006
[sunting] Lihat pula
- Mariologi
- Bunda Guadalupe
- Theotokos
- Gua
Maria
- Salam
Maria
- Perawan
Terberkati Maria
- Kapel
Perawan Maria
- Penampakan
Maria
- Konsepsi
Imakulasi
- Sang Madonna
Referensi
2.
^
Talmud Yerushalmi, Hag. chap.2, 11a; text bahasa
Ibrani di http://www.mechon-mamre.org/b/r/r2b.htm, adalah sebagai berikut: למרים ברת עלי "Maria
binti Eli"
Teks Ibrani, " שמע ישראל יהוה אלהינו יהוה אחד. "
BalasHapusDibaca, " Shema Yisrael: YHWH ( Adonai ) Eloheinu, YHWH ( Adonai ) ekhad. "
Ulangan 6 : 4 yang dikutip oleh Yeshua ( Nama Ibrani Yesus dengan penulisan ישוע ) sebagai jawaban atas pertanyaan dari seorang ahli Torah ( Soferim/ ספרים ) tentang hukum mana yang paling utama dalam Markus 10 : 27. 🕎✡️🐟✝️🕊️📖🇮🇱